x

Well-Being Mahasiswa Dimulai dari Pendekatan Konseling yang Tepat

waktu baca 4 menit
Selasa, 4 Agu 2026 11:07 65 Mustafa ACEH

Kota Langsa, Jejak informasi.id – Keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi tidak lagi hanya diukur dari indeks prestasi atau lamanya masa studi. Di balik capaian akademik, terdapat aspek yang semakin menentukan keberhasilan belajar, yaitu well-being mahasiswa.

Di tengah perubahan karakteristik generasi muda, perkembangan teknologi, dan semakin beragamnya aktivitas mahasiswa, pembimbing akademik dituntut tidak hanya memberikan arahan akademik, tetapi juga mampu mendampingi mahasiswa secara lebih utuh.

Isu tersebut menjadi fokus dalam Pelatihan Dasar Konseling Pembimbing Akademik yang diselenggarakan Unit Penunjang Akademik (UPA) Bimbingan dan Konseling Universitas Samudra (Unsam) pada Selasa, 4 Agustus 2026 di Gedung Multiguna Unsam. Pelatihan ini bertujuan memperkuat kompetensi dosen agar mampu memberikan layanan bimbingan akademik yang lebih adaptif, humanis, dan berorientasi pada perkembangan mahasiswa.

Membuka kegiatan, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat, Dr. Ir. Nasruddin, S.T., M.T., menegaskan bahwa perubahan karakteristik mahasiswa menuntut dosen memiliki kompetensi yang lebih luas sebagai pembimbing akademik. Menurutnya, pembimbing akademik tidak cukup hanya berfokus pada proses perkuliahan, tetapi juga harus mampu memahami dinamika kehidupan mahasiswa.

“Pendekatan pembimbingan yang dulu mungkin efektif, saat ini perlu disesuaikan. Dosen harus mampu mendampingi mahasiswa secara menyeluruh agar aktivitas akademik dan nonakademik dapat berjalan seimbang,” ujarnya.

Narasumber pertama, Alda Zahara Islamyati, M.Pd., menjelaskan bahwa fondasi utama keberhasilan mahasiswa adalah kondisi well-being. Melalui konsep PERMA yang meliputi Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment, pembimbing akademik dapat membantu mahasiswa berkembang secara akademik maupun psikologis.

“Mahasiswa yang memiliki well-being yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan, memiliki motivasi belajar yang lebih kuat, dan mampu berkembang secara optimal. Karena itu, pembimbing akademik perlu memahami kondisi mahasiswa, bukan hanya capaian akademiknya,” jelas Alda.

Sementara itu, Dr. Helmi Ghoffar, M.Pd., menekankan bahwa pembimbing akademik merupakan pendengar pertama bagi mahasiswa ketika menghadapi persoalan akademik maupun nonakademik. Oleh sebab itu, dosen perlu menguasai keterampilan dasar konseling seperti empati, attending, open-ended questions, dan summarizing agar proses bimbingan menjadi lebih efektif.
[4/8, 17.56] Moesthafa.007: Keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi tidak lagi hanya diukur dari indeks prestasi atau lamanya masa studi. Di balik capaian akademik, terdapat aspek yang semakin menentukan keberhasilan belajar, yaitu well-being mahasiswa. Di tengah perubahan karakteristik generasi muda, perkembangan teknologi, dan semakin beragamnya aktivitas mahasiswa, pembimbing akademik dituntut tidak hanya memberikan arahan akademik, tetapi juga mampu mendampingi mahasiswa secara lebih utuh.

Isu tersebut menjadi fokus dalam Pelatihan Dasar Konseling Pembimbing Akademik yang diselenggarakan Unit Penunjang Akademik (UPA) Bimbingan dan Konseling Universitas Samudra (Unsam) pada Selasa, (4/8) di Gedung Multiguna Unsam. Pelatihan ini bertujuan memperkuat kompetensi dosen agar mampu memberikan layanan bimbingan akademik yang lebih adaptif, humanis, dan berorientasi pada perkembangan mahasiswa.

Membuka kegiatan, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat, Dr. Ir. Nasruddin, S.T., M.T., menegaskan bahwa perubahan karakteristik mahasiswa menuntut dosen memiliki kompetensi yang lebih luas sebagai pembimbing akademik. Menurutnya, pembimbing akademik tidak cukup hanya berfokus pada proses perkuliahan, tetapi juga harus mampu memahami dinamika kehidupan mahasiswa.

“Pendekatan pembimbingan yang dulu mungkin efektif, saat ini perlu disesuaikan. Dosen harus mampu mendampingi mahasiswa secara menyeluruh agar aktivitas akademik dan nonakademik dapat berjalan seimbang,” ujarnya.

Narasumber pertama, Alda Zahara Islamyati, M.Pd., menjelaskan bahwa fondasi utama keberhasilan mahasiswa adalah kondisi well-being. Melalui konsep PERMA yang meliputi Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment, pembimbing akademik dapat membantu mahasiswa berkembang secara akademik maupun psikologis.

“Mahasiswa yang memiliki well-being yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan, memiliki motivasi belajar yang lebih kuat, dan mampu berkembang secara optimal. Karena itu, pembimbing akademik perlu memahami kondisi mahasiswa, bukan hanya capaian akademiknya,” jelas Alda.

Sementara itu, Dr. Helmi Ghoffar, M.Pd., menekankan bahwa pembimbing akademik merupakan pendengar pertama bagi mahasiswa ketika menghadapi persoalan akademik maupun nonakademik. Oleh sebab itu, dosen perlu menguasai keterampilan dasar konseling seperti empati, attending, open-ended questions, dan summarizing agar proses bimbingan menjadi lebih efektif.(Mus##)

Mustafa ACEH

Jejak Informasi Aceh
Phone + 62 812 1554 8142

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x